Skip to main content

TENTANG MAN JADDA WAJADA

Hasil gambar untuk man jadda wajada

Oleh Nila Rofiqoh



Bisa karena biasa. Mungkin slogan itu yang selalu kupegang teguh untuk menguasai beberapa ilmu dalam kehidupan. Sampai akhirnya sebuah pelajaran berharga yang benar-benar kudapatkan. Dan bahkan sejak peristiwa itu segala hal kecil kuperhatikan supaya tak salah langkah. Semua berawal saat Dokter memvonisku untuk masa pengobatan yang harus kujalani adalah selama enam bulan tanpa putus.
“Tapi kan ini tuh gak sebentar dan nanti kalo aku tiba-tiba lupa sehari gimana? Ngulang dari awal kan Dok?.” Itulah protes pertamaku ke dokter THT yang sudah menanganiku selama tiga tahun terakhir.
Saat itu aku memang bukanlah anak yang aware dengan kondisi badan sendiri, olahraga jarang, makan terkadang ingat terkadang pun lupa, apalagi yang namanya sayur mayur ooh tidak itu salah satu yang kusisihkan pertama dipiring ketika bertemu dengannya. Tapi untungnya aku masih suka buah-buahan dan ini yang akhirnya membantuku lekas sembuh dari penyakit yang dibawa oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Teringat pesan Rasulullah shallahu alaihi wasallam adab ketika makan yaitu;
Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Dari sini aku benar-benar menjaga semuanya tidak hanya soal makanan tapi juga untuk kesehatanku serta ibadahku yang lebih baik dan aku  menerapkannya sampai sekarang. Memang benar pepatah bilang bahwa penyesalan itu yaa belakangan, kalo didepan namanya pendaftaran. Jujur jika mengingat semua proses pengobatan itu air mata ini pasti menetes. Proses dimana aku harus mengkonsumsi obat dokter sehari tujuh macam dan itu tidak boleh kelewat sekali-pun. Masya Allah, apa kabar lambungku yang tiga jam sekali dicekoki benda asing yang belum pernah kumasukkan ke tubuhku sebelumnya. Dan yang lebih menantang lagi adalah proses itu semua kujalani hanya seorang diri tanpa ada keluarga yang mendampingi maupun orang dekat karena memang posisiku berada diluar kota kelahiranku.
Awal bulan september 2016 menjadi masa masa pertamaku bolak balik rumah sakit dan konsultasi ke banyak dokter. Kecelakaan dengan benturan hebat dikepala memaksaku harus rontgen, beberapa rumah sakit ternyata belum lengkap peralatannya dan ini juga yang membuatku akhirnya survei kebeberapa rumah sakit besar di Jakarta Selatan. Sampai akhirnya seorang teman yang bekerja di rumah sakit umum pusat membantuku menyelesaikan segalanya. Alhamdulillah semuanya dipermudah. Karena aku juga sedang ada amanah sebagai salah satu panitia event akbar dikomunitas One Day One Juz yang mana aku sudah gabung bersamanya selama kurang lebih tiga tahun terakhir, jadi ada beberapa strategi yang harus aku fikirkan untuk mensukseskan acara besar dua tahunan ini. Otomatis pikiranku bercabang ke banyak hal dan membuat kondisi fisikku semakin lemah. Hasil rontgen tengkorakku alhamdulillah bagus, hanya ada benjolan biasa yang kata dokter itu tidak berdampak buruk bagi kesehatanku. Namun semuanya ternyata lebih dari itu, ada drama kehidupan yang Allah sudah skenariokan untukku, untuk menguji kadar keimananku pada-Nya.
Usai makan sate kambing siang itu batukku tak berhenti dengan intensitas tiga menit sekali, terkadang bercampur dengan dahak darah. Aku hanya menganggapnya biasa karena kumerasa badan ini lelah yang amat sangat setelah acara sejak pagi jadi wajar. Akhirnya kuputuskan istirahat sebagai penghilang rasa lelah sambil mendengarkan murottal, dan benar batuk-batukku hilang. Tepatnya lima hari sejak batuk dahak pertama dan inipun siang hari, usai makan siang tiba-tiba aku kembali batuk dahak darah dengan volume yang cukup banyak kira-kira dua gengam tangan. Aku kaget sekaligus heran tak percaya, ada apakah gerangan kondisi badan ini? Apakah ada reaksi lanjutan dari benturan hebat itu? Aah,,! Tanpa pikir panjang sore harinya kusambangi dokter langgananku di rumah sakit ternama di Jakarta Selatan. Setengah jam menunggu akhirnya giliranku pun tiba. Kuceritakan semuanya ke dokter tersebut hal apa saja yang kualami beberapa hari ini, akhirnya dokter pun ambil keputusan untuk melakukan rontgen torak. Setelah satu jam hasilnya pun keluar.
Dan pikirku benar, Allah sedang sayang padaku Ia cemburu karena selama ini aku terlalu sibuk dengan lebih mementingkan urusan antar sesama makhlukNya daripada urusan ke Allah langsung. Bahkan untuk melapor kholas tilawah ke grup agak mendekati waktu akhir padahal biasanya aku paling awal dalam laporan tilawah. Hasil rotgen tersebut menyatakan bahwa aku terkena TBC paru,  dan harus konsumsi obat dokter selama enam bulan penuh. Lemas, tak percaya, binggung serta kepala mulai pusing dan pandangan kabur. Ku coba menenangkan diri,
“Tak adakah alternatif lain selain harus pengobatan selama enam bulan Dok,?” tanyaku dengan wajah melas
“Bakteri ini agak bandel, jadi kamu harus minum antibiotik lebih lama supaya tidak bersarang ditubuh kamu.” Jelasnya
Yaa Rabb, Engkau Maha SegalaNya. Dan sesuai janjimu dalam QS. Albaqarah 286 “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Yaa dan aku percaya itu. Aku yakin aku bisa sembuh. Aku kan dekat dengan alquran, insting positifku beralasan.
Tergambar jelas diingatanku sepekan konsumsi obat dokter aku tak mampu bangun untuk beraktivitas sedia kala, laporan tilawahku mulai keteteran sampai dijapri oleh admin. Aku kholas namun tidak bisa dengan tilawah hanya dengan murottal dari handphone, nafasku benar-benar sangat berat, untuk tilawah lima halaman saja membutuhkan waktu setengah jam lebih padahal biasanya sepuluh lembar kuhabiskan dalam waktu empat puluh lima menit. Dan kondisi ini bertahan sampai tiga pekan lamanya
Aku mulai jenuh, aku merasa hidup tak lagi berguna tak ada gairah untuk menjadi sosok yang bermanfaat dalam kebaikan lagi. Aktivitasku hanya hal-hal ringan yang itu sangat membosankan mata hati. Kabar dari panitia event bahwa akhirnya aku dinonaktifkan sementara sampai kondisiku membaik, yaa sampai fisikku kuat kembali melangkah kebeberapa instansi guna promosi event akbar kala itu.
Sebulan berlalu namun keadaanku masih sama, fisik masih lemah, nafas pendek sampai raut wajah ini benar-benar tak bercahaya pertanda aku manusia hidup. Batinku berontak,! Aku ingin pergi dari sini dari semua kondisi ini. Aku bukanlah seperti ini, aku anak ceria anak yang selalu cerewet, setiap orang lain melakukan kesalahan, selalu membantu pada mereka yang membutuhkan dan masih banyak lainnya. Tiba-tiba saat kulihat video dimedia sosial yang intinya kita sebagai hamba-Nya tak boleh lengah saat diuji, terus dekati Allah apapun kondisimu. Terus berganti-ganti status supaya Allah sering melihatmu ditimeline-Nya. Alhamdulillah, hidayah itu menghampiriku kala kegundahan jiwa ini telah membuncah. Aku paksa untuk tilawah sehari tiga juz, aku tak peduli kondisiku, aku tak perduli nafasku yang sesak ketika terlalu lama tilawah, aku enyah jika nantinya kondisi fisikku semakin drop. Satu hal keyakinanku bahwa “Sebuah hasil tidak pernah membohongi suatu usaha.”
Bismillah, mulai fokus untuk menambah tilawah serta ibadah sunnah lainnya. Meskipun tidak lagi fokus sebagai panitia inti namun tetap membantu sekuat jiwa raga demi suksesnya event akbar dari One Day One Juz. Alhamdulillah tepat setelah tiga bulan dokter menyatakan bakteri TBC telah hilang dari badanku. Yaa, janji Allah selalu benar. Barangsiapa bersungguh-sungguh maka ia pasti berhasil,  dan Allah sesuai persangkaan hamba-Nya, meski tidak gampang dengan sederet ritual ketat serta support dari teman-teman setiap harinya. Selalu mengingatkan untuk tidak lupa minum obat, juga mengirim meme motivasi supaya aku terus tersenyum, ah,! Kalian memang luar biasa. Jazakumullah khayran sahabat pecinta quranku. Kunikmati proses panjang itu dengan ikhlas, serta target kebaikan-kebaikan yang harus kuselesaikan segera.
Aku tak berpikir bahwa ini adalah suatu masalah besar, aku selalu mensetting pikiranku bahwa aku sehat sehat dan sehat. Semua tergantung cara kita dalam bersyukur. Terima kasih Yaa Rabb atas segala proses hidup ini. Tanpa teguran serta kasih sayangMu, hamba mungkin tak mampu naik level keimanan berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

YANG ‘BARU’ TERLUPAKAN

Oleh Zr. Runekaf Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ngulang bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia aadalah makhluk yang paling banyak membantah” QS. Al-Kahfi / 18: 54 Malam itu sebuah tamparan keras menerpa diriku hingga ke ubun-ubun, lebih dari kerusuhan hati, pikiran dan emosional. Bagaimana mungkin sosok anak lelaki berbadan mungil dan berwajah polos itu tidak mampu mejawab pertanyaan dari gurunya? Ku lihat dari kejauhan ia hanya duduk mendengarkan seseorang yang berdiri di depan tanpa ekspresi, seolah pikirannya melang-layang dengan lamunannya. Apakah pantas jika aku langsung menghukumnya tanpa lebih dulu mencari tahu penyebabnya? Mungkinkan aku selama ini lalai dalam membidiknya? Atau memang aku sudah lalai untuk membantunya dalam mengulang hafalannya, bahkan sekedar untuk mengevaluasi. “Siapa yang bisa menyebutkan dua belas bulan Hijriyah secara urut dan ngacak?” Bukankah seharusnya ia mampu mejawab dengan mudah? Menga...

ODOJ, HIJRAH DAN CINTA

Oleh Dinda A Oktavia Di tahun 2017 ini aku bertemu dengan seorang sahabat, dia bernama Hadia Wati, biasa ku panggil Mba Wati. Mba Wati adalah salah satu teman yang kutemui di fasil 3, beliau juga salah seorang yang juga mengampu grup Odalf. Aku tertarik pada ceritanya setelah aku melihat foto pernikahannya dan mendengar cerita tentang hubungannya dengan sang suami. Hingga suatu saat aku berniat untuk mencari tau tentang kisah beliau melalui pesan singkat, dan Alhamdulillah beliau berkenan untuk menceritakannya. Untuk membuka pembicaraan aku bertanya tentang bagaimana beliau berhijrah hingga tergugah untuk menggunakan niqob. Kisahnya berawal tahun 2016 saat beliau mengalami sakit. “Sakitnya sebenarnya tidak begitu parah, tetapi butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkannya.” Tutur Mba Wati Beliau perlu rutin  check up  kerumah sakit selama penyembuhan penyakitnya, dengan rutin datang kerumah sakit Mba Wati menyadari sesuatu bahwa ternyata masih banyak ora...

Apakah Ini Saat Terakhir Kita ?

Oleh: Rochma Yulika Waktu terus melaju, Hari-hari pun berlalu, Langkah kaki kini tinggal satu-satu. Ada yang tersia-sia dari waktu yang kita punya, Sudahkah kita bergegas meraih pahala? Atau terlena dengan dunia. Sahabat Surgaku... Sejenak kita menakar diri, Sebanyak apa diri sudah kita bekali, Untuk menuju kehidupan yang hakiki. Sahabat Surgaku... Tertunduk jiwa yang penuh dosa, Merenungi perjalanan hidup yang penuh alpa, Siapkah kita ketika ajal menjemput kita ? Dan waktu tak lagi tersisa. Gelisah pun hadir, Terbersit tanya yang tak kunjung berakhir, Apakah ini saat-saat terakhir ?? Tak kan rugi diri bila kebaikan selalu diukir, Berharap keselamatan hingga Yaumil Akhir. Tetap semangat tuk menambah tilawah, Hingga kita menggapai banyak berkah, Hanya kepada Allah kita berserah, Semoga berkumpul di Jannah. ??Sungguh kematian adalah muara manusia. Tiada seorang pun lepas dari ketetapan-Nya. Dalam firman Allah: "Katakanlah, Sesungguhnya kematian ya...